YUYURUMPUNG
berwujud raksasa berkepala ketam/yuyu. Ia adalah salah satu punggawa kerajaan
Alengka yang oleh Prabu Dasamuka ditempatkan di dalam samodra. Yuyurumpung
sangat sakti. Ia dapat hidup di dalam air dan darat.
- HOME
- Alengka
- Arjunasasrabahu
- Wayang Baratayudha
- Wayang in English
- Wayang Bahasa Jawa
- Keris-Keris Sakti
- Menyatunya Keris Dgn Pemiliknya
- Penghalang Penyatuan Keris Dgn Pemiliknya
- posisi Keris Sbg Pendamping Manusia
- Bentuk Penyatuan Keris Dgn Pemiliknya
- Keris Omyang Jimbe
- Keris Semar Mesem
- Keris Kyai Singo Barong
- Keris Jalak Budha
- Keris Naga Runting
- Keris Kyai Brongot Setan Kober
- Keris Kyai Carubuk
- Keris Kyai Sengkelat
- Keris Kalam Munyeng
- Keris Nagasasra Sabuk Inten
- Keris Kyai Condong Campur
Jan 26, 2017
Jan 25, 2017
Duryudana Sekaratnya Tersiksa
Duryudana Sekaratnya Tersiksa
Setiap wanita melahirkan bayi. Tetapi tidak demikian dengan Gandari istri Destarata. Ia melahirkan segelantung daging sebesarguling. Orang bertanya-tanya pertanda apa gerangan. Bisma segera mengundang Resi Abiyasa dari pertapaan Sapta Arga guna mempermaknakan kelahiran yang unik itu. Oleh Resi daging itu dikucuri air. Ajaib daging gelantung itu bercerai-berai menjadi berkeping-keping kemudians atu pesatu berubah menjadi bayi laki-laki, satu di antaranya perempuan. Bayi pertama diberi nama Duryudana atau Suyudana, kedua Dursasana dan seterusnya hingga semua berjumlah seratus anak bayi. Sedan yang perempuan diberi nama Dusala atau Dursilawati. Sementara Pandu dari kedua istrinya, Kunti dan Madrim melahirkan lima orang anak laki-laki. Dari Kunti lahir Yudhistira, Bima dan Arjuna. Sedang dari Madrim, Nakula dan Sadewa. Kedua golongan itu masing-masing disebut Kurawa dan Pandawa dan merupakan inti cerita Mahabharata.
Jan 24, 2017
Yudhistira Lambang Manusia Sabar dan Adil
Orangnya pendiam tidak banyak bicara. Kalaupun berbicara tidak banyak
direkayasa supaya menarik perhatian orang. Ia sabar, jujur dan adil serta
pasrah dalam menghadapi cobaan hidup. Dialah yudhistira. Karena jujur dan sabar
harus disertai kesumerahan, maka ia mampu memenjarakan nafsu. kesabaran tanpa
kesumerahan belum dapat dikatakan sabar. Untuk melukiskan sejauh mana kesabaran
dan kesumerahannya, dijelaskan dalam kisah sebagai berikut: ketika itu Pandawa
sedang berada di hutan Kamiaka. Mereka sedang menjalani hukuman buang selama 13
tahun akibat tipudaya kaum Kurawa. Lapar dan dahaga serta bahaya yang setiap
saat mengancam merupakan derita yang amat sangat. Tetapi berkat keteguhan dan
ketabahan serta tak putus-putus berdoa kepada Hyang Maha Tunggal kesemua itu
dapat diatasi. "Hemm, sampai kapan derita ini akan berakhir, si Duryudana
keparat itu semakin besar kepala," geram Bima, "Baru tujuh tahun
Sena. Tinggal enam tahun lagi, sabarlah dik," Yudhistira menghibur.
"Kalau saja aku diberi ijin kakang Yudhis, sekarang juga aku gedor si laknat
itu," kata Bima penuh nafsu. "Tulisan neraca Maha Agung tak dapat
diubah lagi.
Andaipun kita bertindak, tetapi tidak akan merubah nasib, dik.
Malapetaka ini harus kita jadikan pelajaran untuk memperkuat jiwa dan pikiran
agar siap menghadapi segala tantangan hidup," ujar Yudhistira. Sabar dan
kesumerahan Yudhistira membuat adik-adiknya tunduk tak berani membantah. Pada
suatu hari terjadi musibah menimpa keluarga Pandawa. Arjuna, Nalu dan Sadewa
ditemukan ajal setelah minum air kolam di tengah hutan itu. Rupa-rupanya kolam
itu ada penunggunya. Dengan perasaan sedih Yudhistira berkata: "Duh,
dewata, siapa yang tega mencabut nyawa adik-adikku. habislah harapanku untuk
merebut negeri Astina. Dinda Arjuna, kaulah andalan kami, tapi kini kau telah
pergi untuk selama-lamanya. Apa dayaku," ratapnya. Tak lama kemudian
terdengar suara tanpa rupa: "Mereka mati karena minum air kolam.
Peringatanku tak dihiraukan." "Oh, siapakah tuan?" tanya
Yudhistira. "Aku penunggu kolam. Saudaramu tak menghiraukan peringatanku
untuk tidak minum air itu," jawabnya. "Hamba mohon maaf atas
kelancangan adik-adik hamba. Jika memang kematiannya sudah kehendak Hyang
Pinasti, hamba relakan. Tetapi jika kematiannya belum waktunya, sudi kiranya
tuan menolong menghidupkannya kembali," pintanya. "Aku bersedia
menghidupkan salah seorang diantara mereka, asal kau bersedia menjawab beberapa
pertanyaanku," kata suara itu. "Hamba akan menurut kehendak tuan,
Silahkan tuan bertanya barangkali hamba dapat menjawabnya," "Baik,
dengarkan. Pertanyaan pertama: Siapa musuh yang paling gagah suka membunuh tapi
sukar dilawan?" Menurut hamba musuh yang paling gagah adalah hawa nafsu
yang bersemayam di dalam diri sendiri. Ia suka membunuh apabila diperturutkan
keinginannya. Ia sukar dilawan jika iman ikta lemah," jawab Yudhistira. "Jawabanmu
benar. Sekarang pertanyaan kedua:
Jan 23, 2017
Caranggana
Bambang
Caranggana, salah
seorang putra Arjuna. Ibunya bernama Endang Maeswara, sedangkan kakeknya adalah
Begawan Maruata. Sejak kecil ia tinggal menemani ibu dan kakeknya di pertapaan
Gambir Melati, bukan mengikuti ayahnya di Kasatrian Madukara. Walaupun
sebenarnya ia bukan seorang yang sakti, tetapi kejujuran dan kebersihan hatinya
membuat bambang Caranggana sering disusupi Sang Hyang Wenang. Dan bila sudah
demikian, tidak seorang pun dapat mengalahkannya.
Jan 22, 2017
Wilkampana
Wil
Kampana adalah wadyabala raksasa negara Alengka yang terkemuka. Kampana
tercipta dari ari-ari Jambumangli, putra Resi Maliawan, yang karena daya cipta
kesaktian Resi Pulastya, brahmana raksasa dari pertapaan Hargajembatan,
menjelma menjadi seorang raksasa bertubuh pendek gempal dan berambut merah.
Jan 21, 2017
Candabirawa
Candabirawa, dalam dunia pewayangan adalah sejenis ilmu
yang hanya dimiliki oleh Begawan Bagaspati dan Prabu Salyapati. Dengan ilmu
penguasaan Candrabirawa, Bagaspati maupun Salya dapat mendatangkan sebangsa jin
raksasa untuk mengawal dan membantunya dalam suatu pertempuran. Bila jin
raksasa kerdil itu dipukul atau diserang, ia akan membelah diri menjadi dua. Jika
diserang lagi, ia membelah diri lagi menjadi empat, begitu seterusnya, sehingga
jumlahnya terus meningkat sesuai dengan deret ukur.
Candrabirawa pada mulanya adalah
selongsong kulit Batara Antaboga, yang berganti kulit setiap 1000 tahun sekali.
Dari selongsong kulit itu Batara Guru menciptakannya menjadi makhluk naga yang
mengerikan, lalu disuruh menyerang Begawan Bagaspati. Namun, pendeta berujud
raksasa itu dapat mengalahkan Candrabirawa sehingga akhirnya makhluk itu
mengabdi kepadanya. Dalam perang tanding itu, dengan kesaktiannya Bagaspati
mengubah wujud Candrabirawa yang semula berupa naga, menjadi raksasa kerdil
yang maya.
Jan 18, 2017
LAKON PETRUK DADI RATU
Petruk
kang dadi Ratu anyar penegen ngedekake negara anyar . deweke pengen ngobrak
ngabrik Ngamarta, nanging sadurunge sowan maring Prabu kresna Gathotkaca matur
yenpetruk ngosak-ngasik ngamarta. Sak drunge kuwi wrekudara matur karo
kakangekresna yen jimat kalimasada ilang ora reti parane, kresna duka lan di
ireh-ireh baladewa.
Ning
sadurunge tekan ana ing negara Dorowati, Petruk kang anjelma dadi ratu mau
dicegat Prabu Baladewa sing wis reti menawane Petruk arep anggempur negara Dorowati,
nanging Prabu Baladewa kalah klawan Petruk.
Sidane
Gendruwaraja teka amarga dijaluki tulung dening Semar lan Gendruwaraja ngerti
manawane Prabu Tong Tong Sot mau kuwi jelmaane Petruk amarga gaman sing
diduweni dening Petruk sing awale kuwi saka dheweke. Petruk kang njelma dadi
Ratu mau sidane bisa dikalahake dening Gendruwaraja, lan jebul Petruk uga
nyolong Jimat Kalimasadane Pandawa.Petruk njaluk ngapura lan mbalikake Jimat
Kalimasada banjur digawa karo Gendruwaraja amarga arep diakon tapa 100 dina
kanggo ngetaske alane.
Alkisah Abimanyu menderita
sakit. Abimanyu adalah perantara, yang nantinya akan mewariskan dampar (tahta)
Palasara, pendiri Astina, kepada Parikesit, anaknya. Bersamaan dengan sakitnya,
pergilah ketiga wahyu yang dimilikinya, yakni wahyu Maningrat, yang menyebarkan
benih keratuan, wahyu Cakraningrat, yang menjaga keberadaannya sebagai ratu, dan wahyu Widayat,
yang melestarikan hidupnya sebagai ratu. Ketiga wahyu itu kemudian hinggap pada
diri Petruk. Ia pun akhirnya dapat menjadi raja di negara yang dinamainya
Lojitengara. Ia menggelari dirinya Prabu Wel-Geduwel Beh!. Untuk kukuh menjadi
raja, ternyata ia membutuhkan damper kerajaan Astina, warisan Palasara. Petruk
memerintahkan kepada kedua patihnya, Bayutinaya—titisan Anoman—dan
Wisandhanu—titisan Wisanggeni, anak Arjuna--, untuk mencuri tahta Palasara itu.
Kedua utusan itu berhasil membawa pulang tahta tersebut. Prabu Wel-geduwel Beh
mencoba duduk di atasnya. Begitu duduk, ia pun terjungkal. Ia coba lagi
berulangkali. Sang Prabu akhirnya menyerah dan memperoleh bisikan melalui
penasihat kerajaan bahwa supaya tidak terjungkal, ia harus memperoleh boneka
yang bisa dililing (dilihat dan ditimang). Petruk kembali menyuruh kedua
utusannya, Bayutinaya dan Wisandhanu untuk mencari boneka yang dimaksud. Tanpa
memperoleh rintangan yang berarti, kedua utusannya berhasil membawa boneka itu
yang tak lain adalah Abimanyu yang sedang sakit. Ketika dipangku Prabu
Wel-Geduwel Beh, Abimanyu sembuh. Dan Abimanyu berkata, "Kamu takkan bisa
menduduki tahta itu, jika kamu tidak memangku aku". "Pada saat itulah
saya mengalami, bahwa saya ini hanyalah kawula. Dan saya sadar, saya akan tetap
tinggal sebagai kawula, tak mungkinlah saya bisa duduk sebagai raja. Tugas saya
hanyalah memangku raja, agar ia dapat menduduki tahtanya. Tuanku Abimanyu dapat
duduk di tahta raja karena saya memangkunya. Jadi raja itu takkan bisa menjadi
raja, kalau tidak dipangku kawula, rakyat jelata seperti saya ini", kata
Petruk sambil memandang tanah datar di hadapannya.
Subscribe to:
Posts (Atom)





